Kamis, 28 Mei 2009

Jam Beker

Sebuah jam beker yang ku beli 5 tahun yang lalu selalu menemaniku diwaktu ikhtikaf di dalam kamar kost yang kecil. Jam beker itu ku beri nama “Muwal”, sebuah nama yang ku ambil dari bahasa arab yang berarti “setia”. Muwal berjalan dengan rapi dan menimbulkan efek tak tik tuk, membuat iri teman-temannya karena perjalanannya selalu teratur dan tidak saling mendahului antara detik, menit, dan jam. Tetapi, terkadang aku merasa kasihan bila Muwal mogok kerja saat melihat aku tidur dengan mulut menganga atau mungkin cemburu melihatku tidur dengan sahabat tercintaku “Zainal” di tempat yang memadukan sesuatu yang saling interaksi satu sama lainnya. Si baja mahoni yang setia, si manja kasur yang suka memantulkan benda yang ada di atasnya, si kurus langsing guling tergeletak tak berdaya dan si bantal yang sombong dan ingin selalu berada di tempat yang utama.
Muwal berteriak keras untuk membangunkanku yang terlelap habis Perang Baratayudha. Aku tersenyum simpul dan sesekali manguap.
“Muwal, engkaulah teman sejati selama ini” desahku sambil membelainya. Aku merasa was-was terhadap nasibnya yang sering sakit-sakitan dan mogok kerja sehingga aku sering bangun telat dan kesiangan.
“Jangan khawatir Muwal, engkau tak akan ku jual atau ku buang ke selokan depan kost. Engkau telah menunjukkan kesetiaan mengabdi kepadaku selama 5 tahun. Kau tak pernah kelaparan. Tapi aku yang selalu kelaparan, terutama dalam hal cinta dan asmara. Aku selalu ragu-ragu dan tidak percaya dengan diri sendiri. Kesetiaanku kandas di persimpangan aspal jalan. Hatiku mengatakan bahwa aku sangat cemburu melihat kekasihku berada di pelukan lain. Pemfusian yang mereka lakukan telah mengiris-iris hati merah ini yang beratnya hanya satu kilogram. Hatiku pecah menjadi berjuta cacahan, belum bisa di rajut oleh benang-benang cinta dan asmara warna lain di sekitar benang putih pujaanku. Juga dikarenakan aku belum menemukan poin sebuah topik yang menjadi alas kecemburuanku itu” aku bercerita banyak tentang permasalahan yang rumit itu kepada Muwal yang konsisten sehingga bisa menemukan halilintar berkah untuk menjawab desar-desir angin yang terus menerpa jiwaku agar goyah dan memuntahkan semua kotoran-kotoran maya yang bermaraton untuk merebut simpati kenyataan.
Muwal tampak tersenyum dan mulai mengerti keluhan asap-asap racun pembakaran hutan-hutan yang sudah menasional yang kuutarakan. Aku sedikit bisa tersenyum.
“Selama ini shobat, aku selalu setia dan memimpikan rangkaian ranting-ranting yang menjadikan daun tampak hijau, kuat, dan yang terakhir muncul bunga-bunga kehidupan untuk memulai hidup baru. Muwal, engkau tahu maksudku kan? Mengapa aku bisa cemburu seperti ini?”. Aku semakin mengeraskan suaraku dari pita-pita kaset yang mulai ruwet mengikuti ruwetnya tatanan dunia global di Indonesia. Muwal tampak ketakutan dan berusaha menyembunyikan suaranya.
“Muwal, janganlah engkau mogok karena gertakanku ini, aku tidak sengaja, tapi aku berusaha melepaskan dan mengeluarkan sampah-sampah penyakit yang menggerogoti hati yang semakin menggumpal ini. Kenapa hal ini harus menimpaku. Tidak kepada orang-orang yang selalu bermain dan mencari rizki dari cinta. Shobatku, aku sangat mencintainya, bila ada yang mengganggunya aku tidak terima. Tapi, aku tak dapat bertindak apa-apa karena kehidupan dunia sekarang menuntut banyak tentang hak asasi manusia. Aku tidak bisa marah kepadanya, mengumpat, memisuh, menghardik, menempeleng kekasihku saat itu. Tapi beda dengan yang ada di sini” aku memperlihatkan dadaku.
“Sakit sekali rasanya, lebih baik sakit gigi daripada sekujur tubuhku menggigil dan bergetar”. Muwal mulai santai dan sedikit bisa berpikir untuk overcoming problemku.
Muwal menjawab problemku dengan tujuh dentangan pelan yang di akibatkan persediaan bahan bakar dan segala macam makanan mulai menipis. Aku bangun dari ranjangku dan menuju ke tempat kembarku yang menunjukkan perbedaan posisi.
“Lihat muwal, aku tampak kurus. Tapi, bagaimanapun masalahku ini merupakan musibah besar yang menggelegar jantungku. Kini aku menangis. Air mataku jatuh ke sungai Metro tanpa sisa. Bagaimana tidak seorang kekasih yang sekian lama hidup bersama. Menyanyikan lagu-lagu kenelangsaan buat diriku. Melempariku cakram-cakram perpisahan. Kini telah menghianatiku. O, malang yang mesti ku tanggung” komentarku dalam kondisi jiwa yang remuk sembari membuka pintu radio yang melantunkan lagu-lagu mahameru untuk menghiburku. Tetapi ternyata radio lebih suka menyanyikan lagu SDM yang di suarakan oleh Sheila on seven dengan “shefianya”.
“Dengar Muwal, rekan kita juga mengerti aku. Tapi itu bukan untukku, itu untuk kekasihku. Aku tidak sanggup radio. Hentikan suaramu yang menyayat hati ini. Aku sudah tidak sanggup untuk mendengar lagi. Lihat muwal dan radio, langit yang biru di luar juga ikut berduka , mengubah warnanya menjadi gelap, awan yang semula putih kapas juga menjelma menjadi comulus dan stratus. Burung-burung melintasi sungai metro barat kamarku, dedaunan yang hijau menjadi hitam keputih-putihan karena debu Gunung Semeru. Batu-batu tidak ketinggalan berubah menjadi suram dan berlumut. Semua menjadi gelap, berarti duka!. Hanyalah sinar matahari dan angin yang tidak mau menjadi gelap. Bahkan semua mengutukku sebagai lelaki yang tidak sanggup memerankan lakon utama dalam cerita ini”. Tiba-tiba kesejatian cintaku kepada maha kekasih menjadi tumpul di tengah hutan pengembaraan bersama Bagus Sajiwo yang menghalau Mak Lampir, maka ku hadirkan kembali kasih sayang yang tiada lawan dan kawan setelah Allah dan Rasulullah yaitu ibuku, yang selalu dan penuh keikhlasan. Kasih sayangnya tidak mungkin terungkapkan secara total meskipun oleh si pujangga kampus “Ananto Firdaus” atau Kyai Jamrong, filosof hati yang ketakutan karena karya-karyanya terbukti untuk dirinya. Ini tidak mungkin dapat dipublikasikan dalam jiwa ragaku menjadikan sesaji dari persembahan tumbal kehidupan.
“Shobatku, diamlah sejenak untuk memberi kesempatan kepada radio, adikmu menyanyikan lagu-lagu riang untukku” bunyi tak tik tuk dari mulut Muwal sedikit berkurang. Muwal menghormati radio yang mendendangkan lagu Merpati putihnya Ike Nur Jannah.
“Muwal, sekarang aku mulai sadar kalau spiritualitasku lagi kering karena terhempas oleh angin tornado dari kota seribu macam angin dan terkesima oleh alur goyangan realitas dunia. Maka aku ingat selalu radio yang selalu ngaji sebelum sholat maghrib, membacakan Surat Yasin, Ar-Rohman, suaranya Bimbo, Muamar dan pidatonya si Dai Sejuta umat: semua itu merupakan perpaduan agung yang memantul dari kepiluan, cinta dan harapan-harapan yang disematkan di pundakku. Dengan teringat itu, jiwaku semakin riang dan berbunga. Seperti pikiranku yang menuntut kemandirian dan melepaskan keterikatan spiritual dengan hatiku”. Radio semakin memanjakanku dengan lagu “Sepohon kayu” yang dinyanyikan leh Hj. Wafiq Azizah.
Kupandangi foto kekasihku beku laksana salju. Mungkin ia khikmat meniti di atas lorong keyakinannya. Mungkin ia sedang di selimuti kabut tebal keprihatinan kepadaku, atau entahlah. Menertawakanku karena menjalankan lakon seperti ini. Muwal tiba tiba berhenti berputar. Aku terhenyak memandangnya. Potensi pikiranku tidak sepenuhnya dapat mencerna kelakuan-kelakuan yang dilakukan kekasih yang bernama Aniar yang artinya "aku naksir indahnya awan rindu', meski disela-selanya terkandung kekuatan magis yang dasyat.
"Aniar kekasihku, dengarkanlah Muwal yang selalu wirid setiap saat. Aku sebenarnya tidak pernah yakin bahwa kediamanku ini tidaklah berbeda dengan kereta maha kecil yang ada di rel yang jauh, panjang, dan tidak saling bersentuhan. Namun entahlah kalau ternyata Kanjeng Gusti Allah Swt menghendaki sesuatu yang lain yang bersembunyi di luar jangkauan daya nalar pikiranku".
Muwal menertawaiku ketika melihat model strategi pikiranku yang dipakai untuk menggempur pertahanan Italia sebagai juara dunia sepak bola.
"Muwal, jangan menertawaiku" hardikku membuat Muwal diam seribu bahasa.
"Aniar, aku menyesal telah menyakitimu, bayangan-bayangan indah tentangmu telah menggugah berkembangnya impian-impian maya dalam kehidupan kita. Kita pasti tahu impian itu pasti lebih indah daripada kenyataan. Buktinya sekarang ini, impian bersamamu bisa lebih langgeng bahkan sampai jenjang pernikahan. Tapi perjalanan cinta kita tersendat-sendat. Aniar, kenapa musti engkau yang memenuhi bayangan pikiranku untuk meraih impian, kok tidak lainnya. Aku marah kepadamu karena menyebabkan aku menderita dalam kefanaan. Kucium kesunyian kening foto kekasihku. Bunga melati yang dulu pernah ku tanam di pelipis foto kekasihku di sampng muwal, ternyata telah sekutu dengan bantal yang hampir sekarat d himpit sprey. Aku terkejut. Angin pantai yang semula ramah tiba-tia mendamparkanku ke hari-hari silam : betapa lunak sarang laba-laba segenap keberadaaanku.
'Muwal, akhirnya dengarkanah bait-bait Qosyidah puisi cinta yang menggetarkan seluruh isi kamar , termasuk si sombong bantal".
Saat pagi menebar keramaian
Jiwaku mencair di padang pasir
Untuk memaafkan sang kekasih
Aniar, engkau bertasyahhud
Di pinggir Sungai Metro
Semoga
Hatiku bisa menerima
Kemenangan dan kekalahan
Yang masih dalam kandungan ibu
Apakah kita padu atau memfisi
Apakah aku mencintaikmu

"Muwal, sudah kuputuskan bahwa aku ingin bicara langsung kepada kekasihku agar pertentangan Tom and Jerry segera sirna dan menjadi sepasang merpati yang tidak dapat dipisahkan.

Joyosuko Malang,
15 Agustus 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar