Kamis, 28 Mei 2009

Terbakar Kehampaan

Cinta……”Pujangga-pujangga terdahulu telah menyampaikan” Adalah pemberian tuhan, cinta adalah inti, sedangkan manusia yang menjalani adalah kulit. Cinta adalah ikatan kasih sayang yang didapat dari tuhan, jadi cinta itu adah sifat Tuhan. Bagi mata yang terang, cinta itu adalah keajaiban cahaya abadi. Seseorang yang gila karena cinta, mati dengan harapan bagi sesuatu yang hidup. Walau aku harus meneruskan keteranganku tentang cinta, walau seratus kebangkitan berlalu, belum juga pernah purna. Cinta terkadang membuatku begitu berapi--api dalam mengarungi dunia. Cinta juga bisa menjerumuskanku pada tataran penderitaan yang amat dalam sehingga hidup ini terasa hampa. Duhai gadis pujaan hati titisan Dewi Sanggalangit, dengarkan puisi yang kubuat ini, ia mengalir bagai air kehidupan.

Air Kehidupan

Aku ini…

Tumbuh sendiri

Mengarungi hidup

Pada diri aku

Antara dirimu dan aku

Terjadi perbedaan yang dalam

Membuat serpihan insan

Jadi kemelut hati

Cinta sebagai air

Yang memberi kehidupan

Pada makhluk yang butuh

Penyegaran yang tak kira

Cinta kini, kutemui di dalam latar

Yang cukup luas

Aku tergugah

Perasaan cinta hampa

Yang jadi beku

Bertahun-yahun

Dulu……

Cintaku hilang

Oleh keserakahan pengguna ilmu tua

Yang melarang jilu bergabung

Yang melarang LorLon memfusi

Padahal aku mengalami

Adalah kata jilu dan LorLon

Hingga,

Perpisahan

Memberi warna kehidupan

Yang telah terajut selama seribu hari

Rengekan tangisan dihati

Tak cukup mengobati luka

Dihati penuh dengan iba

Ketika teringat itu

Menangislah Ia

Saat itu,

Saat melepas masa kemudaannya

Aku berjingkat pergi

Sambil,

menahan nafas hati

Agar tak pencar berserakan

Penguasanya paham

Pendampingnya juga mengetahui

Bahwa cinta tak harus memiliki

Seribu hari yang telah aku lalui

Tidaklah sia-sia

Aku tak harus memiliki

Jadilah cintaku

Sebagai air

Yang mengaliri kehidupan ini

Duhai gadis pujaan hati titisan Dewi Sanggalangit, Itulah kenangaku pertama yang ditolak oleh adat, budaya dan tradisi yang masih mengikatku sebagai dunkling kehidupan, tapi aku sangat menghormati dan tidak menolak. Meskipun telah seribu hari lebih berjalan mulai diawal kekecilan hidup hingga pikiran dewas atelah menganga didepan mata. Aku telah bersama cintaku dari sebuah pesantren dikawasan hutan kawilangan kartoharjo yang musnah oleh tradisi Jilu dan LorLon. Aku tetap, tapi perlu diketahui kalau sistem cinta itu ada dua, cinta yang memiliki dan cinta yang tidak memiliki. Dan aku tertakdir mendapat jatah yang kedua, akhir yang membuat ketabahanku diuji. Untuk itu kusirami diriku dengan salsabila yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku di padepokan ilmu.

Padepokan Ilmu

Ku ingat

Hari kamis, dibulan September 2004

Dideretan ke empat

Sebuah padepokan ilmu yang cukup terkenal

Seantero dunia nyata

Aku ingin bertasbih

Sehabis wiritan di daerah seribu macam angin

Membuatku penat

Aku berkonsentrasi,

Aku mengamati sekeliling

Lalu......

Aku rileks

Aku santai

Saat aku memperhatikan dua orang gadis

Berjilbab putih

Sedang menimba ilmu

Pemberian tuhan

Untuk menambah rasa cinta kepada-Nya

Aku tak perduli

Kuteruskan konsentrasi hati dan pikiran

Aku terus merasakan nikmat tuhan

Yang sulit dirasakan oleh orang lain

Meskipun itu akan merusak system pertemanan

Maka, salah seorang gadis berjilbab itu

Mengutarakan perkataan

Terpisah dari jalur kebenaranku

Bahwa aku memperhatikan

seorang gadis berjilbab disebelahnya

Maka......

Aku kaget

Tidak mengira

Akan seperti itu

Tatapan kosongku

Menodong sebuah harapan

Maka......

Terjadilah persahabatan yang sekilas

Bagai sekilas berita

Dan semakin lama hilang tertelan perjalanan kehidupan.

Duhai gadis pujaan hati titisan Dewi Sanggalangit, itulah saat pertama kali kita berjumpa dan berkenalan denganmu. Dan disitulah aku sebenarnya cuek dan hilang ditelan bumi tapi ketika ada seseorang yang mengingatkanku. Maka, disitulah awal kesadaranku mencari dirimu. Aku masih mengingat dan tak mau bermain dengan cinta. Dan aku teringat oleh ucapanku sendiri. Bahwa cinta adalah seorang tukang pijat yang mencari kelelahan dan rasa capek dan sebaliknya tiada pencinta yang meraih persatuan tanpa usaha kekasih yang mencarinya. Aku mulai terbangun dari kegelapanku. Jadi termotivasi dari puisi cintanya Jalaludin Ar-Rumi ‘jangan kau melihat pada keindahan dan keburukan bentukm, tataplah cinta dan sasaran pencarianmu”. Itulah yang membuat aku tersiramioleh air cinta yang dipancarkan olehmu. Hatiku kala terbayangkan dirimu disetiap kala itu. Air cinta itu dating diwaktu kita berpisah selama beberapa juta detik kehidupan untuk menyejukkan jantungku.

Air Cinta

Air cinta

Yang mengalir

Dari tinggian

Ke dasaran

Yang terpancar

Dari dirimu

Duhai gadis pujaan hati titisan Dewi Sanggalangit

Ku masih teringat

Akan rautanmu

Yang membawa air cinta untukku

Hasratku, pada air cintamu

Telah membawaku terbang

Melintasi samudera ilmu

Dan keluasan Al Qur’an

Aku jadi bingung dan gila

Jendela hanya mampu

Menerima sebagian kecil cahaya bulan

Padahal bulan, terus memancarkan cahaya yang abadi

Itupun aku,

Aku tak mampu

Menangkap air cintamu

Yang masuk ke hati dan jantungku

Yang hanya sebagian kecil terdampar dan melekat

Sedangkan air cintaku

Apakah sudah terpancar dan mengenaimu?

Ataukah belum...

Aku tidak tahu, tidak tahu

Semua itu...

Tidak aku pahami

Padahal aku...

Jadi terpesona oleh syariat air cinta

Yang terus melindungimu

Tapi, aku tak mampu menerimanya.

Duhai gadis pujaan hati titisan Dewi Sanggalangit . waktu itu aku mulai mengerti bahwa mata dan hati tidak bias dibohongi. Aku mulai menyukaimu dan menyayangimu. Entah dari mana aku bertindak seperti itu. Seringkali aku tahu cinta nafsu dan hanya wajah duniawi yang nampak dihadapanku. Jalan terjal telah mengeliliku untuk mencazri cintaku. Aku menyadari, jiwaku kerdil untuk urusan cinta. Aku tidak paham ini mungkin akan membuatku terlahir kembali untuk menapaki lahirnya cinta dihati

Lahirnya Cinta

Cintaku

Terlahir kembali

Terulang lagi

Untuk kesekian kali

Awal untuk kegagalan

Sekarang untuk harapan

Aku sangat berhasrat untuk melahirkan cintaku

Yang lama telah mati

Atau hanya pinsan semata

Oleh kata semaput

Bertahun yang lalu

Bertahun yang menangis

Oleh biduan putrid jelita

Yang selalu memancarkan ayat-ayat kenelangsaan

Keturunan Kyai sempurna

Dari daerah kawilangan kartoharjo

Dan, kini….

Kudapatkan lagi

Kelahiran cintaku

Meskipun aku tidak menyadari

Persambungannya

Tapi, aku tidak perduli

Jika aku tidak mampu meraihnya

Sebab, aku masih terbelut benang merah

Oleh asmaraku yang lahir

Apakah dia tahu

Kelahiran cintaku

Yang muncul darinya

Dan terus mendekap nafsuku

Aku suka, cintaku bertahan

Selama ini

Kurun waktu yang sangat lama

Tak pudar oleh gertakan prahara kelud

Tapi, apakah itu tersahut?

Aku tidak tahu

Duhai gadis pujaan hati titisan Dewi Sanggalangit, aku hormati kelahiran cintaku kepadamu. Aku bingung ketika berhadapan denganmu. Cintaku tak sepaham denga keadaan cintaku yang ada dalam hati ini. Malah tidak searah dengan langkah beratku. Aku jadi bingung. Kini, aku hanya bias berpikir tentang dirimu. Seorang pujangga cinta mengatakan “ketika cintamu telah membentuk ketinggian gunung mahameru, maka ingatlah bahwa permukaan laut adalah kilauan yang tak tercapai dan kedalamannya adalah kegelapan yang tak terduga dan diantaranya adalah ikan-ikan yang teak terjamin.” Aku juga tidak paham. Wujud yang terpancar keluar dari raut wajahku jelas terlihat bahwa aku sangat mencintaimu. Bentuk penyiksaan diri telah aku terima dengan konsekuensi cintaku . aku tak tahan, kucoba untuk bersabar dalam episode ini. Mengapa pilihanku harus jatuh kepadamu, tidak kepada yang lainnya. Aku tidak tahu, mungkin tuhan telah menggariskan langkahku untuk episode sekarang ini. Aku tidak paham dengan dirimu, apakah engkau juga merasakan seperti yang terus menggelora dalan setiap langkah yang harus aku jalani, babak demi babak lakon kehidupan ini, apakah bias meluapkan perasan yang tersahut oleh cintamu kepadaku, itu belum jelas. Tapi itu terserah, karena saat ini aku terus menikmati hawa surga yang menaungiku. Yang penting aku telah meluapkan perasaan dalam bentuk kata-kata yang terurai menjadi kalimat dan terus tersusun menjadi barisan yang sangat rapi pada barisan batalyon puisi cinta yang siap memangsa setiap pendengan dan pembaca untuk memahami bacaan yang aku sampaikan itu sebuah fakta yang harus terpegang terus. Sebuah penerimaan dan kepenolakan dalan kata logis dalam sebuah perjalanan cinta. Tanpa adanya cinta itu, dunia sungguh hampa. Karena itu, aku tidak ingin menjadi Ishq (kepayang) karena hanya mengeluarkan cinta nafsu saja kepadamu. Cintaku adalah abadi. Aku berterima kasih kepadamu yang telah mengenalku dan telah memberikan gumpalan cinta tanpa kejelasan status dunia. Bila engkau mencintaiku, meskipun hanya sebesar buah terkecil. Aku sangat bahagia dan tak akan sanggup mengungkapkan kata-kat terima kasih. Meskipun kata-kata dari pujangga besar dan terkenalpun tak akan sanggup meluapkan rasa kebahagianku ini. Meskipun rinduku terus menyelimuti kemanapun aku melangkah dan sudah membentuk sebuah baying-bayang abadi. Aku tetap mengiyakan sehingg akata rinduku menjadi impian yang semoga tercapai dan bertemu denganmu. Itu sebuah kenikmatan dunia yang tiada duanya.

Rinduku

Rinduku di persimpangan

Antara kejelasan atau kebutaan

Aku cinta pada hati

Meskipun raga tak memiliki

Bukan pada mata

Kulukiskan jiwa ini

Membuat nestapa

Pemerian dalam dunia

Cintaku…

Bersatu dalam kalbu

Menyimpang di negeri jauh

Tertuju jelas pada jiwa

Yang terpegang oleh seorang gadis

Dari tanah Selo Pagelaran Penutup Jiwa

Apakah hal itu wajar?

Dalam keaslian cinta

Bukan fatamorgana nafsu

Oh cintaku…

Sudikah engkau mengenal cinta dan memberi harapan

Itu sudah memuaskan diriku

Tapi, cintaku meminta nafas panjang

Yang tak jelas batas klimaksnya

Membuat jiwa ragu

Hati bimbang

Aku tahu,

Ini memang sulit

Menjangkau kejelasan

Antara langkah dan maksud

Hingga hati dan jiwaku bersandar ke dermaga lain

Yang setia menanti sandaran perahu cinta

Dan terus menanti…

Duhai gadis pujaan hati titisan Dewi Sanggalangit, kemudian aku akan menciptakan penderitaa dan rasa sakit. Agar aku bias merasakan senangnya hati ini dan aku merasakan manisnya rasa jamu kehidupan. Aku sudah memulai langkah dengan langkah lain yang merbeda dengan tujuan awal sehingga bayangan lama dan baru tentangmu sedikit demi sedikit berterbangan entah kemana. Tapi waktu selembar laying menyapamu dan engkau menyahut dengan lontaran berbeda, aku menjadi kaget dan tak percaya. Ternyata dibalik penundaa hati dan cinta masih ada terbersit cinta dan fefleksi hati yang bias menyayat jiwa. Aku tidak tahu. Kenapa itu telat dikatakan setelah aku memutuskans sebuah hasil perjuangan. Tapi, kuingat bahwa itu tidak terlalu aku sesali, karena Allah Swt pasti punya acara lain kepadaku dan kepada kekasihku. As Shatibi berpesan “ Oh hati, ambillah analogi demi pemahaman sehingga kau tahu perbedaan antara keterpaksaan dan perbedaan. Jadilah kebebasan. Bahwa engkau punya kebebasan.” Terima kasih engkau telah sudi mencintaiku meskipun sia-sia tetapi hati dan jiwa sangat bergembira dalam langkah selanjutnya dan hal itu akan terus ku kenang sepanjang hayat yang terus aktif dan akan aku scan dan install terus. Lalu aku akan kembali bangun dan bangkit untuk membina dan menempa diriku agar sabar dan tabah dalam menjalai hidup dengan dan tanpa kekasihku. Harapan ditabur dan mengutip serpihan angan untuk diriku dan dirimu. Apakah aku dan engkau kukuh dan kuat dalam pemerian itu atau menfusi secara jiwa. Terus kuingat dan kukenang engkau, engkau, engkau kekasihku gadis pujaan hati titisan Dewi Sanggalangit. (Kediri, 03 Pebruari 2008)*

* Puisi ini dibuat dengan bantuan teman-teman the maza group, thanks to Mr. Imin, Mr. Amix, Gus Bimo Anan, Ning Ema, Mrs. Tyas and mbak iprid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar