Kamis, 28 Mei 2009

Telepati Buatan Manusia

“Kekasih datang membawa cinta, tubuhku mulai terasa harum. Aku sudah tidak menghiraukan penghinaan dunia.”
Itulah petikan singkat yang terngiang dalam qolbuku yang membaur dengan ayat-ayat Surat Arrahman yang selalu terbaca berulang-ulang. Sebuah karya seni India yang memaknai arti cinta secara mendalam sehingga menimbulkan imajinasiku dalam memenuhi panggilan kekasih yang telah berkenan memanggilku lewat telepati buatan manusia.
Waktu terus bergulir, aku sedang menghidupkan gairah bunga yang meratapi nasibnya yang kehausan dan juga menjalani orkestra ratapan hati di tengah melimpahnya sumber kehidupan. Bungaku terkurung dalam tanah sejengkal di atas bebatuan dan plastik. Tiba-tiba jantungku berdetak sedikit keras karena ada suara khas telepati buatan manusia yang tertuju kepadaku aku bergegas memasuki istana ketentraman yang dibangun nenek moyangku yang mewaris pada ayahku. Aku merespon panggilan lembut kekasihku lewat telepati buatan manusia yang memintaku untuk melanjutkan episode indah bersamanya dengan kegembiraan kaum muslim menyambut masa berbuka di bulan nan suci Ramadhan.
Ku siapkan diri dengan berpakaian suci celana hitam produk tangan-tangan pribumi 3 tahun yang lalu, sedangkan kaosku bermotif perpaduan garis warna warni tegak lurus searah vertikal untuk selalu mengingatkanku pada keagungan Illahi. Lalu kuraih jaket usang peninggalan keperkasaan dulu sewaktu berguru di Padepokan Joyotresno di samping Sungai Metro dan di Lembah Kadieng putuk. Dengan sisa-sisa keperkasaan jaketku yang mencengkram tulisan Underground untuk membuat bulu kuduk orang yang membaca dan melihat berdiri.
Kupacu kuda buatan orang sipit setengah windu yang lalu dengan kencang untuk menerobos barisan blockade angin leysus yang berhembus dengan kencang tanpa mau menentukan arah langkah di daerah seribu macam angin. Kecepatan kudaku melebihi dasyatnya terjangan bayu yang saat itu sedang berkampanye di daerah tenggara dari kabupaten yang terkenal kecamatannya. Aku pacu kudaku untuk menambah kecepatan agar mendekati kecepatan supersonic sehingga aku bia berlatih ilmu cahaya, ilmu nova, atau ilmu supernova yang sampai saat ini belum ada manusia syariat yang mampu menjalaninya.
Kupakai pesan dari An-Nizami yang mengatakan “Sungguh, tiada pecinta yang meraih persatuan tanpa kekasih yang mencarinya” Aku berpikir, kukerahkan otakku untuk mengedit data-data awal tentang proses perjumpaan sampai masa perkenalan dan higga saat ini. Aku menjalaninya dengan penuh keberanian karena di tengah gelombang tradisi dan etika budaya yang menganggap pemfusianku ini bertentangan karena proses yang kujalani akan mengarah pada satu titik klimak pada system siswodikromo yang menurut sebagian orang sedikit tabu. Aku biarkan anganku melayang melintasi samudra ilmu yang luas dan juga hamparan padang pasir yang belum pernah kulalui.
Kuda buatan orang-orang sipit terus kupacu untuk menyebrangi Sungai Brantas yang melegenda dan mengandung harta karun yang bernilai trilyunan rupiah. Tetapi kulihat sungai itu merana dan airnya menjadi kelam. Semakin cepat kudaku kupacu, lalu melewati perlintasan kereta Rapid dhoho yang jadi mascot perhubungan di kadipaten Kadiri. Aku telah sampai pada gapura megah yang jadi lambang kemegahan dan keanggunan Kota Kediri di senja hari yang mulai menampakkan rona jingga kemerahan di atas langit sebelah barat sehingga tampak perpaduan awan jingga menghias diatas puncak Gunung Wilis.
Aku melihat Sungai Kresek berada tepat di depanku saat menjalankan orkestra hati dan kenelangsaan karena merasa minder oleh bau yang ditimbulkan olehnya. Bau itu bukanlah bau sungai kresek, tetapi ia hanyalah wadah untuk pembuangan sisa-sisa bahan cair yang sudah tidak dihargai oleh manusia. Aku gembira kulihat dua gadis sedang duduk dengan sedikit harap di gerbang sebelah selatan. Mereka tersenyum saat melihatku sedang berusaha menghentikan laju kudaku, tepat di depan mereka aku berhenti. Kusapa dengan tutur kata yang halus yang membuat suasana sedikit tenang dan khusuk dalam menjalani episode awal pertemuan kami yang berlangsung dengan singkat ditemani oleh seorang gadis pemerhati bahasa dari Negeri Sumber urip Kangancar di kaki Gunung kelud. Kekasihku yang memakai kerudung kedamaian hati berurai membentuk rajutan ayat-ayat Maryam dan melantunkan lagu kesukaan pada ayat-ayat Yusuf sehingga bersatu padu menyambutku dengan gembira.
Cuaca semakin gelap bukan menandakan kegetiran dan kedukaan hati, tetapi hanyalah proses alami pada siklus siang dan malam. Di dalam benakku yang sunyi, aku membayangkan kekasihku yang berada tepat di hadapan tatapan yang berkulit untaian kata-kata puisi indah. Untaian kata-kata yang yang kuning kecoklatan bersinggung serasi dengan corak pakaian yang dikenakan. Tiba-tiba kekasihku berkata:
“Abangku, kita nanti melepaskan masa penantian menahan nafsu seharian di mana?” kekasihku tersenyum, wajahnya ceria, segala bunyian gesekan daun-daun bersinggungan di terpa angin. Lalu kekasihku melanjutkan lontaran lesannya, “Abangku sayang! Di sebelah ini ada sebuah warung pinggir jalan yang meracikkan menu aduhai dan bolehkah aku mengajak seorang bidadari untuk menemani sehingga aku lebih sedikit leluasa menjalani episode ini”.
“Adikku sayang! Sekarang sudah waktunya Maghrib, masa berbuka dan membatalkan sudah dimulai. Kita cari dulu pahala awal yang lebih afdhol. Langit lebih dulu mengirimkan tingkatan ibadah kepada kita semua, kita batalkan dulu penantian sehari yang dilanjutkan dengan sholat maghrib dengan khusuk sehingga proses perjalanan kita untuk mengisi urusan duniawi tidak terganggu oleh kewajiban yang belum terjalani”.
Kami berpisah untuk waktu sesaat, saat Maghrib yang gembira, langit merah memancarkan gumpalan-gumpalan awan tipis, para malaikat turun ke bumi menyaksikan perjalanan indah kami aku bergegas menjalankan kewajibanku, lalu melantunkan lagu-lagu kegembiraan untuk menunggu kekasihku kembali dari ibadah ritual. Kami melanjutkan episode indah di dalam warung sederhana yang menyajikan menu-menu makhluk bernyawa secara alami. Dalam penantian sajian yang begitu dasyat ini, aku memandang wajah kekasihku yang memancarkan cahaya kerinduan yang amat mendalam, tetapi pancaran itu sedikit beku oleh gumpalan file pertanyaan yang belum terungkap dengan jelas.
“Adikku sayang!, kemarin sedianya perjalanan ini segera terwujud tetapi ternyata Allah berkehendak lain kita belum dapat bertemu di alam nyata dan menambah imajinasi seharian hingga akhirnya kita bertemu di tempat nan damai ini”, aku awali pembicaraan santai dengan terus menatap wajah kekasih yang tanang. Kekasihku membalas tatapanku dengan senyuman damai yang membuat sejuk di dada.
“Abang, abangku sayang! Pertemuan kita tertunda bukan karena kehendak kita, tetapi melainkan proses perbedaan penafsiran yang jangan sampai membuat kita memfisi. Biarkan kita tetap memfusi dan mengukir impian indah tentang masa depan kita, tetapi….” Kekasihku berhenti melanjutkan perkataannya, dia berpikir sejenak, sebelu dilanjutkan, aku menyela dengan pertanyaan singkat
“Kamu masih ragu ya, tetapi….. apa yang kamu maksud?” “Abang, jurang pemisah kita cukup terjal. Apakah kita bisa mengatasi dan menyelesaikan perjalanan cinta yang telah kita perjuangkan ini?”. Tanya kekasihku dengan mimik keragu-raguan. Aku meneguk es degan yang terhidang di depanku dengan perasaan lega dan pikiran yang jernih bercampur dengan percarian data penyelesaian masalah yang tengah kubincangkan. Lalu aku diam untuk memberi kesempatan kepada nyamuk-nyamuk mengatraksikan sponsornya sehingga aku sudah bisa menguasai diri. Gadis pemerhati bahasa dari Negeri Sumberurip buka suara, “Jadi kamu adalah ajudannya?” pertanyaan singkat itu ditujukan kepada kekasihku yang tertunduk menahan pikiran yang tambah berat.
“Kalau Tanya apapun, langsung aja kepadaku karena aku adalah sekretarisnya” jawab kekasihku sambil sedikit tersenyum.
“Bukan hanya sekretaris, tetapi Aspri, asisten pribadi” komentarku pendek yang membuat suasana sedikit tersirami rintikan embun di malam hari yang berkeliaran bersama partikel kelas malam.
“Adikku sayang, aku terus mencoba untuk menentang tradisi yang menghalangi kita dengan penjelasan masalah ukoro yang hanya ciptaan makhluk yang masih rendah di hadapan Allah dan setara dengan ciptaan lainnya”. Lalu aku menambahkan
“Adikku sayang, mulai saat ini kita berjanji untuk memgang teguh perjuangan kita sampai pada ending klimak janur melengkung sebagai batas kemubahan tindakan kita dalam mengarungi dunia tanpa batas ruang dan waktu”
“Alhamdulillah, aku selalu setuju pada tujuan abangku sayang yang sempurna itu, tapi dari mana abangku sayang bisa mencintai aku?” kekasihku tiba-tiba membelokkan setir perbincangan seru kami.
“Aku cinta pada adik karena hati bukan karena pribadi, adik telah mampu menaklukkan hatiku ini. Aku cinta bukan karena raga yang nantinya pikiranku terus terpesona pada keelokan ragamu yang tidak bisa abadi sehingga aku tidak akan bisa sempurna dalam mengarungi hidup bersamamu, tetapi aku lebih memilih rasa sebagai fondasi penguat cinta yang akan kita bina ini. Adikku sayang, lalu aku tidak akan mencintai nyawa dan jiwamu seperti bagian tubuhmu, bagian sifatmu dan karakteritikmu. Kalau itu kulakukan, kamu pasti akan memberikan bagian nyawa dan jiwa padaku dengan hasrat nafsu saja yang terus menyelubungi dan menyelimuti perasaan naluri saja. Tetapi aku harus mencintai adikku sayang secara keseluruhan, segala harapan kecintaanku padamu telah kutuangkan pada tempat yang paling dalam pada bagian ini. Untuk itu, mulai sekarang jangan dikomentari tentang masalah yang sudah kita bincangkan ini”. Aku bicara panjang lebar sehingga perjalananku dalam mengarungi makanan di atas meja telah ludes sehingga kami bergegas meninggalkan tempat kenangan itu. Aku berpamitan kepada kekasihku untuk kembali ke rumah di samping sungai patusan dan rawa putuk dengan damai sambil membawa harapan yang besar dalam mencapai cita-cita.sebelum kupacu kudaku, aku tersenyum sebentar dan melambaikan tangan kepada kekasihku sampai tak terlihat bayangannya karena kalah oleh ganasnya kegelapan malam.

MAN 3 Kediri
11 November 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar