Kamis, 28 Mei 2009

Pedoman Pkli

"Woooooooo…………."
Seisi mikrolet AL yang ditumpangi oleh rombongan PKLI langsung gempar. Bahkan ayam jantan yang biasa berkokok di pagi buta ikut-ikutan resah. Sepertinya ayam jantan itu resah mendengar suara koor dari dalam mikrolet itu. Ia meresa suaranya yang nyaring disaingi oleh makhluk berkaki dua lainnya.
Orang-orang dalam mikrolet al tersebut bergegas keluar. Mereka berhamburan membereskan barang-barang bawaan mereka.
"Wah, wah, kita kembali ke asal lagi" teriak Jaim dari ujung selatan Pesantren Islahiyah.
"Benar" tanpa komando semuanya menjawab dengan serempak.
Di setiap sudut pesantren terdengar bisik-bisik "pssssssst…. Anak PKLI sudah tiba."
"Mengapa harus pakai 'pssssst'?" tanya yang lain.
"Iya, biar seperti orang ngerumpi!"
"Kita harus menyambut bagaimana kepada mereka ? Kata orang mereka orang kuliahan, mereka pintar, berwibawa, dewasa, dan mempunyai banyak ilmu kadigdayan" kata cewek berkerudung hijau kecil.
"Kita sambut dengan salaman saja" jawab cewek yang mengatakan 'pssst' tadi.
"Ah… itu sih udah kuno, ketinggalan zaman. Sekarang orang sudah banyak meninggalkan itu dan sekarang musimnya pake' ciuman bila berjumpa. Itu pengganti salaman. Tetapi, karena kita di pesantren kita sambut dengan nyanyian dan sholawatan saja. Lebih-lebih kita takut sama yang brewok itu, uhhhhhk tebal dan keren sekali brewoknya.
Dan ketika ibu nyai selesai menyambut peserta pkli. Santriwati-santriwati berduyun-duyun membentuk barisan untuk menyambut peserta PKLI tersebut."
"Pssssst…. Kata orang yang brewok itu namanya Sofyan asli negeri Ende di wilayah timur Negara Metronesia." kata cewek yang mengatakan pssst tadi.
"Ah ..jangan 'psssst' terus!" protes cewek yang lain.
"Gagah sekali dia, uhk jenggotnya, bikin eeeeehhhk di hati" khayal mereka sambil tertawa lepas.
"Sedangkan yang krebo itu adi dari daerah Guluk-guluk di Negeri Maduranesia, yang berkacamata itu dari Propinsi Kapulungan, sedangkan yang tinggi itu namanya Jaim dari Negeri Seribu macam angin di kaki Gunung Wilis."
"Sedangkan yang cewek yang jumlahnya 10 itu siapa" tanya cewek gembrot yang sejak tadi diam saja.
"Sudah-sudah, jangan ngurusi sesama jenis saja, nggak menarik" protes cewek-cewek yang lain.
Para penyambut di pesantren islahiyah ternyata cukup banyak. Sampai-sampai halaman pesantren di pasang terop dan beratus-ratus kursi. Ada panggung hiburan, sound system terpasang rapi. Para penyanyi untuk menghibur pengunjung di datangkan, meskipun mereka masih amatiran tetapi atraksinya sudah seperti yang aslinya. Seperti ada yang berjoget kayak Inul daratista, Uut Permatasari, Evitamala, Siti, dll. Rupanya santriwati ingin menyambut peserta PKLI dengan meriah.
Hidangan bermacam-macam mulai dari kue tradisional hingga yang modern, keripik singkong, rangginang, molen, nogosari, pisang goreng, roti kukus, donat, soft drink, hingga permen karet rasa mint tersedia semua.
Permen karet rasa mint yang pedas dan segar sengaja dihidangkan. Siapa tahu ada yang belum sikat gigi, ….. Siapa tahu aja!..
Para santriwati yang sangat banyak karena hari itu pas hari minggu menikmati hiburan yang didendangkan dengan menikmati hidangan. Sambil makan, tertawa, berbisik, ngobrol, sekaligus menyaksikan peserta PKLI yang duduk di kursi depan di samping panggung lewat TV monitor. Di setiap sudut memang dipasang TV monitor karena tidak mungkin semua santriwati bisa menyaksikan secara langsung.
Tetapi mereka kembali dikejutkan oleh pernyataan ibu nyai. para santriwati saling pandang, ada yang melotot karena tersedak onde-onde.
"Apa yang terjadi?" tanya santriwati kecil yang sedari tadi menikmati donat yang lezat itu.
"Pssssst…. Yang ini boleh pssst, kan?! Peserta cowok nginepnya tidak di sini tetapi di pesantren kyai manan".
"Hah?!"
Seorang santriwati yang mengerti betul tentang situasi itu menerangkan.
"Yang disini hanya boleh cewek saja sedang yang cowok harus di pesantren cowok. Tapi kita bisa lirak-lirik pada suatu waktu berangkat sekolah, sepulang sekolah, ngaji dan lain-lain, pokoknya bisa deh, asalkan tidak ketahuan pengurus, ha ha ha." kata santriwati itu sambil membetulkan letak kacamatanya.
Mata para santriwati terlihat basah, mereka melepas kepergian peserta pkli yang cowok ke pesantren kyai manan. Mereka berempat akan bergabung dengan simon dari sumbermanjingwetan, latief si bayi tabung dari pulau bawean, dan yoseph dari gedang sewu kalau di jual harganya lebih dari 50 ribu rupiah.
Setelah sampai di kamar, mereka segera mengadakan rapat dadakanuntuk memilih ketua, sekretaris dan bendahara. Kemudian dicapai kata sepakat. Adi jadi ketua, jaim jadi sekretaris, dan bendaharanya adalah amik. Semua mematuhi kesepakatan itu.
*****
Seminggu sudah mereka melalui peristiwa itu, amik dan kawan-kawan sudah menularkan ilmunya di perguruan masing-masing. Sedangkan jaim dan adi masih leha-leha karena mereka nganggur seminggu ini. Pagi-pagi benar jaim dan adi berangkat ke perguruan yang dijadikan terpat berlatih bagi pemuda pemudi yang haus ilmu umum tingkat atas. Di dalam kantor mereka bertemu dengan dewan pelatih kanuragan dan nalar, saat sedang khusuk berbicara dengan bapak anwar, tiba-tiba terdengan suara yang mengejutkan, mereka sampai melompat dari posisi duduknya.
"Mbik…mbik…mbik!"
Jaim langsung mendongak. "hah?! Suara apa itu?"
"Itu pasti suara kambing," kata alif.
"Suara kambing tuh!" kata tituk menegaskan ucapan sahabat sejatinya.
"Mbik…mbik…mbik!"
"Oh suara itu sekarang ada di belakang mereka" serentak mereka berbalik. Oh… ternyata batara ramana.
"Mbik…mbik…mbik… sial betul aku hari ini. Aku mendarat tidak tepat sasaran. Harusnya aku mendarat tepat di depan kalian. Tetapi yah.. Sedikit meleset." kata batara ramana yang menjadi dosen pembimbing lapangan.
Semua maklum kalau batara ramana tidak bisa mendarat tepat pada sasaran karena batara ramana tidak bisa merunduk. Ia tidak bisa menikmati indahnya rumput di halaman beserta penghuninya seperti undur-undur, jangkrik, dan sebangsanya. Kalau tidak memakai kaca spion (kayak motor saja hehehe) yang dia lihat sehari-hari hanya langit, awan, langit-langit, cicak dan burung.
"Wahai peserta pkli, kami para dosen mengetahui kesulitan yang kalian alami. Kalian membutuhkan petunjuk, bukan?! Kata batara ramana.
Fitriana dengan takzim mengangguk, benar, bapak dosen"
Batara ramana menjulurkan sebuah gulungan kertas luset dan kumal, karena kegerimisan . Fitriana menerima kertas tersebut dengan hormat.
"Bukalah," perintah batara ramana.
Fitriana yang berada paling barat membuka gulungan itu bersama rekan-rekannya." Hah?! Ini kan peta panduan pkli!"
"Buat apa? Kami sudah mempelajari ini sebelumnya."
Batara ramana tertawa, "mbik…mbik…mbik!" jangan heran kalau para dosen memberi kalian panduan pkli lagi. Kalian terkenal paling bandel dan mbeling. Maka ini sangat diperlukan oleh kalian. Ini bisa jadi petunjuk bagaimana mengajar yang baik, ketemu sisiwa nakal, di goda siswa-siswi atau di goda oleh guru-guru single. Bukankah begitu pengalamanmu selama bercengkrama bersama murit, alif?”
Aalif menjawab dengan sopan, “tetapi menurut saya itu namanya panduan mengajar, bukan panduan pkli, bapak dosen.”
Batara ramana mengibaskan tangannya. “ah, kan sama-sama panduannya!”
Alif menahan senyum. Dia menunduk dalam-dalam, sedangkan yang lain terpaksa harus batuk-batuk menyembuhnyikan tawa.
"Mbik…mbik…mbik!, kepada bapak kepala sekolah. Kami minta agar bapak mendidik siswa kami yang ndablek-ndablek ini agar bisa mengajar yang baik, benar, dan tidak bikin ulah. Tolong jaga mereka. Kalau bikin ulah jangan sungkan-sungkan di jewer atau di hukum di bawah terik matahari sambil ote-ote” pinta batara ramana kepada kepala sekolah yang sejak tadi terbengong-bengong.
“Kalian semua, di sini kalian akan mengajar bahasa yang tidak dipakai oleh negerimu. Tetapi oleh negeri-negeri orang kulon, namanya bahasa inggris?”
“Oh! “ seru jaim. “bahasa inggris?”
“Ya ya, betul-betul… kamu sudah pernah mendengar ya jaim?” Tanya batara ramana senang.
“Belum, baru kali ini, batara” jawab jaim.
“Oh… kukira sudah tahu,” tukas batara ramana sedikit kecewa.
“Bagaimana bisa kami mengamalkan pedoman pkli itu?” Tanya erma.
“Dengan latihan yangs erius, di sekolah ini terkenal angker bagi pemula atau orang yang belajar mengajar, maka kami tahu kalian yang ndablek akan bisa lulus dari sini sehingga ilmu kalian akan bermanfaat di kemudian hari’
“Kayak sudah mati aja” kelakar adi yang sejak tadi diam dan cuek.
“Diam, nggak sopan itu namanya”. Balas batara ramana sedikit meninggikan suaranya.
“Kukira waktuku tidak banyak, aku masih punya beberapa urusan, seperti di undang kondangan, peresmian gedung, dan musyawarah dengan majlis permusyawaratan dewa. Segeralah laksanakan tugas kalian dan saya ucapkan terima kasih kepada bapak kepala sekolah.”
Setelah menyampaikan pesan, batara ramana berjongkok seperti orang akan start lari, tetapi kepalanya tetap mendongak. Dia memang akan start ke udara. Terbang dan lenyap di telan awan.
*****
Setelah batara ramana kembali ke kahyangan, mereka melanjutkan berunding dengan kepala sekolah. Istilah kerennya berdiskusi. Mereka menentukan siapa-siapa yang menempati kelas satu dan kelas dua.
“Adi di kelas 1-c” ujar jaim yang jadi korlap kegiatan tersebut.
“Aku tidaks setuju” sahut tituk lalu ia menyarankan adi di tahuh di kelas ii-a sedangkan para cewek di taruh di kelas i.
“OK, semua sudah clear” lanjut jaim dengan suara yang menggeledek. Jaim memang tidak pernah berbisik. Suaranya menguntur dan memang suaranya seperti sound system yang lagi rusak. Jaim memang orang yang suka bicara apa adanya dan menghormati orang lain.
“Kayak iklan saja, ini bukan promosi lho” sela Nurul yang sedari tadi membisu mungkin sariawan kali.
“Mengapa harus adi, aku, dan dan jaim yang di kelas dua, padahal kalian lebih jago dan pinter, aku tidak setuju, selayaknya kalau nurul dan tituk, erma, atau fitriana saja yang di kelas dua” ujar alif dengan nada yang agak tinggi.
“Sabar, dengarkanlah penjelasanku” ujar jaim dengan sikapnya yang bijaksana tetapi tetap dengan suaranya yang keras.
“Kalau urusan untuk mengambil pedoman mengajar itu diserahkan oleh siapa?” Tanya nurul.
“Ya kepada jaim sendiri, la wong dia yang mampu terbang ke kahyangan dan senang semedi untuk mencari pedoman-pedoman lain. Sudah berbagai pedoman yang dia dapatkan, seperti pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila, pedoman hari dan pasaran, pedoman, bintang dan shio, pedoman beternak ayang, pedoman bercocok tanam dan banyak pedoman lainnya. Dia yang paling tahu tempat-tempat terpencil, dia juga yang bisa menggunakan kompas dan hafal peta. Bukankah begitu jaim?” Tanya erma kepada jaim.
“Bukan……” jawab jaim dengan mantap sambil berkelakar. “serahkan saja itu kepadaku. Saya akan berusaha dengan sekuat tenaga membawa pulan pedoman itu. Jangan khawatir dengan saya. Tempat yang ditunjukkan oleh batara ramana pasti aku sudah tahu. Negeri joyotresno itu dekatnya negeri kabadutan di dalam pelataran candi kuno badut”.
Jaim segera keluar dari ruang diskusi di sekolah tingkat atas. Dia sekarang sibuk di kost-kostannya. Ada apa?
Tentu saja sibuk menyiapkan bekal untuk perjalanannya. Sebuah ransel anti air besar diisi denga kaos kaki, jas hujan, tenda, tali, sekardus mie, sarden, macam-macam snack, permen, peniti, jarum jahit?
Peniti dan jarum jahit?
Iya dong! Siapa tahu di tengah jalan ranselnya sobek atau jebol, terlalu merepotkan kalau jaim harus berhenti dan menjahitnya, lebih praktis kalau pake peniti lalu di tempat istirahat bisa di jahit.
“Rekan-rekan, saya berangkat dulu!” Kata jaim ketika berpamitan.
Wow, jaim sekarang kelihatan gagah, topi bundar, teropong, peta, pisau pramuka, dan tali disandangnya.punggungnya membawa ransel sarat isi. Tangan kananya meneteng kardus isi mie instan. Tangan kiri mengempit setumpuk komik untuk bacaan di perjalanan. Makanya jaim tidak bisa melambaikan tangan. Dia cuma bisa mengangkat kaki sebagai ganti lambaian tangan. Lalu berangkatlah korlap pkli itu ke negeri joyotresno yang terkenal angker.
Negeri joyotresno adalah sebuah negeri yang sangat luas. Suasanya syeraaaaaaaaam! Sawah membentang luasnya, disampingnya pepohonan tumbuh dengan lebat dan saling berhimpit. Daun-daun yang rimbun membuat sinar matahari tak sampai menyentuh tanah. Siang seperti malang dan malam tentu saja seperti malam!
Selain gelap, keangkeran negeri itu juga karena sering terdengar suara auman macan jawa, suara geramannya lebih keras dari auman macan biasa. Kadang terdengar suara yang mengerikan. Karena itu belum pernah ada manusia kota yang berani menginjakkan kaki ke negeri itu. Pilot yang mengemudikan pesawat termasuk sshukoi pun akan memilih jalan memutar daripada lewat diatas negeri itu. Untunglah pesawat terbang masih jarang di negeri ngalam.
Mula-mula jaim naik andong menuju daerah arjosari, kemudian ia naik dokar ke daerah kanjuruan. Setelah tiba di kanjuruan, ia meneruskan perjalanannya ke negeri joyotresno dengan jalan kaki karena kendaraan belum bisa melewati. Setelah tiba jaim istirahat di bawah pohon klengkeng yangsedang berbuah disamping sebuah sendang yang jernih airnya.
“Uh…. Ternyata jauh sekali perjalanannya. Sangat melelahkan, lebih susah daripada ke semeru, arjuno, welirang” keluh jaim sendiri.
Tiba-tiba jaim melihat kelebatan orang atau makhluk yang berjalan di bedengan dekat kali. Jaim mengikuti orang itu dari kejauhan, dia mengamati gerak-gerik orang itu, orang itu tidak tahu kalau diawasi oleh jaim yang pernah dikat intelpolisi yang tak sampai lulus. Jaim melihat dengan jelas orang itu berjalan ke sebuah gubuk di samping tanaman padi, di gubuk itu sudah menunggu seorang lagi. Jaim semakin penasaran dan mendekat.
“Dia itu manusia,jin, bidadari, hewan, atau apa ya” pikir jaim.
Setelah dekat tampak terlihat dua gadis cantik jelita berparas laksana bidadari dewi arimbi dan dewi laksmi sedang ebrteduh di gubuk dan bermain bunga yang baru di petiknya. Jaim memberanikan diri mendekati gadis itu.
“Permisi mbak atau adik” sapa jaim dengan sopan.
“Ya terserah kangmas saja, yang penting jangan mbik saja nanti nyindir batara ramana dari engeri kahyangan” jawab gadis itu.
“Bolehkah saya berteduh dengan adik berdua” pinta jaim sambil meletakkan tas ransel dans egala peralatannya. Setumpuk komik shincan, doraimon, detektif konan, dragon ball, hagimaru, dan lain sebagainya diletakkan dengan rapi.
“Wah, punya banyak komik ya kang mas, boleh pinjam” pinta gadis yang emmakai baju warna biru.
“Boleh, asalkan dibaca di sini saja, akren saya mau mengambil pedoman pkli di dalam hutan ini di samping sungai metroyang terkenal aliran derasnya dan tidak menunjukkan metropolis malah ndesit sekali.”
“Ngomong-ngomong kita belum kenalan”
“Benar kang mas, tetapi kami malu”
“Mengapa malu, nanti bisa malu-maluin, tuh lihat si kodok sedang bersenandung dan mengaji, si emprit sedang enak makan padi dan si nyamuk memperhatikan kelengahan kita, baiklah nama saya jaim dari negeri seribu macam angin di kaki gunung wilis” jaim menyodorkan tangannya yang kasar.
“Wah-wah saya siapa ya, nama sa..saya nadia dari negeri kasingosarian di samping rel sepur”
“Sedangkan saya yulia dari negeri kadamaian”
“Oh nama yang cantik dan indah, secantik paras orangnya ya, dan mengapa kalian berdua berani di sini apa tidak takut kepada perampok kolor kuning yang di buat ngetren di novel ini setelah ngetrennya kolor ijo”
“Oh kami sudah biasa kok, pergi ke gubuk ini sambil melepaskan kepenatan nemdengarkan berita negara yang tak jelas jluntrungnya”
“Ohhh, begitu… tapi apakah anda nanti akan bermalam di sini juga” tanya jaim.
“Benar kang mas, wong kami sudah membawa peralatan camping juga seperti mas yang barang bawaannya seperti mau boyongan rumah” jawab nadia.
“OK, menurut petunjuk peta ini, saya disuruh untuk mendirikan di tempat yang terdapat pohon ceplukan setinggi 10 cm “
“Itu kang mas pohon ceplukannya” tunjuk yulia.
“Benar, nggak usah susah cari-cari lagi, kita bersama mendirikan api unggun ya”
“Baiklah kang mas” jawab kedua gadis itu.
*****




Pesantren Mbah Kyai Abdul Manan Singosari
15 Mei 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar