Kamis, 28 Mei 2009

Kereta Panataran

Suasana stasiun kota baru malang yang baru saja disinggahi Ananto membuat memorinya mengambang dan menjulang menembus awan-awan hitam yang menutupi sebagian kecil Kota Malang seperti daerah Sungai Metro yang terkenal dan sebagian Sungai Brantas yang membelah Kota Malang menjadi dua. Ananto teringat akan sebuah kisah seribu hari yang lalu ketika ia menjumpai seorang gadis yang menangis terisak-isak waktu memandangnya. Ananto bingung dan tidak bisa berpikir dengan jernih, sehingga pikiran kacau yang muncul di tengah-tengah kepenatan manusia yang sedang menjalani hidup muncul dan membawa Ananto cuek dengan keadaan saat itu. Gadis itu masih terisak-isak menyebabkan kerudung putihnya yang menutupi kepalanya kecuali wajahnya basah kuyup. Air matanya bercucuran menganak sungai dan membasai seluruh gerbong kereta api yang menuju ke Kota Blitar. Gadis itu hanya bisa menangis dan tak pernah mengungkapkan isi hatinya kepada penumpang lain, di tempat duduk Ananto terdapat 4 orang, tiga laki-laki termasuk Ananto dan seorang lagi adalah gadis itu menjadikan suasana membisu sampai 3 hari 2 malam. Matahari yang malu bersinar dibalik awan hitam seakan menambah penderitaan gadis tersebut. Ananto kaget ketika suara klakson kereta api Matarmaja jurusan Jakarta mulai berangkat. Lamunan Ananto buyar seketika, Ananto kembali duduk di samping seorang ibu-ibu yang mukanya membekas terkena luka baker, dan di samping kanan seorang gadis berambut panjang duduk dan memperhatikan Ananto yang berlagak bego.
Kereta api yang menuju kota blitar tiba di Stasiun Kota baru, segera naik dan mendapatkan sebuah kursi yang kosong di Gerbong ketiga no 15 b. Ananto kaget ketika lamunan yang terbangun di Stasiun Kota baru muncul dan menjadi kenyataan. Kini di depannya, gadis kerudung putih itu duduk dengan mata sayu memandang ananto dengan tenang setenang Gunung Putri tidur di sebelah barat Kota Malang. Gadis itu diam membisu. Ditatapnya Ananto dengan mata sayu, dia menatap dan terus menatap Ananto. Gadis itu terus menatap Ananto dengan mata sayu dan tidak berkedip, ia menjadi seperti sebongkah batu yang menjadi mainan ombak didalam gerbong kereta. Ananto menjadi kikuk, salah tingkah. Ananto melihat orang yang duduk disampingnya dan disamping gadis itu cuek dan menikmati dunianya sendiri. Orang-orang itu sudah meninggalkan dunia yang fana ini dengan masuk pada dunia mimpi masing-masing.
Gadis it terus memandang ananto, menatap, tatapannya terus tertuju pada Ananto dan tidak berkedip sama sekali. Ananto mulai berpikir dengan ekstra "Ada apa dengan gadis ini? Mengapa gadis itu menatapku dengan tajam dan sayu? Apakah aku berbuat kesalahan, tapi dibalik tatapan tajamnya, ia memndam sesuatu yang tidak tertuju kepadaku?" Ananto merasa heran dengan tingkah gadis itu. Ada seberkas tebal pertanyaan yang mengintari otak penat Ananto.
Gadis itu terus menatap Ananto dengan sayu, matanya mulai mengeluarkan air mata, air mata kepedihan. Air mata yang sangat jernih itu pelan-pelan menetes kebawah dan mengenai kerudung putihnya. Air matanya tidak hanya menetes lalu semakin lama mengalir menganak sungai bak Sungai Brantas yang dilanda banjir bandang. Isak tangisnya tidak terdengar sama sekali. Ananto bertambah heran dan sedikit bersyukur karena gadis itu tidak mengeluarkan suara kerasnya seperti seribu hari yang lalu.
Kereta api yang menuju Kota Blitar terus melaju dengan santai dan seperti berjalan merambat. Kereta api kuno yang menjadi maskot perhubungan Malang-Blitar terus memanjakan penumpangnya yang berada didalamnya. Otak yanga ada di kepala ananto mulai memutar dan berkeliling mencari data yang tersembuhnyi, tetapi belum bisa menemukannya. Bantuan kode search yang sangat jarang digunakan terpaksa digunakan untuk membantu pencarian itu, tetapi sia-sia. Kemungkinan file yang dicarinya berada pada sebuah folder kebingungan atau sudah terdelete seribu hari yang lalu. Mau bertanya, tetapi mulutnya tidak bisa diajak kompromi. Mau menasehati tetapi semua otot-otot yang berhubungan dengan pemberhentian tangisan gadis itu terasa kaku. Kaku terikat rantai-rantai baja buatan penyihir bahadur. Ananto mencermati setiap tetes air mata gadis itu, air mata yang menyimpan ribuan bahkan jutaan kepedihan dan kesedihan. Setiap tetes air mata mengandung tiga ribu kepedihan dan seribu macam kesedihan. Kepedihan gadis itu makin lama makin berkurang. Tinggal beberapa file kepedihan yang belum terkuras keluar dari otaknya. Ananto menarik nafas dalam-dalam, dalam… dalam… ia menghembuskan nafasnya pelan lalu menarik nafas dalam… dan dalam….. Dan mengeluarkan pelan-pelan dan itu terus diulanginya sampai jiwanya sedikit tenang dalam menghadapinya. Ia mencoba untuk membuka kunci suara yang telah membelenggunya selama ribuan detik. Tetapi belum bisa, ia coba sekuat tenaga, tetapi sia-sia.
Kereta api terus berjalan hampir melewati sebuah terowongan gelap sekali yang menyimpan semua kepedian mahkluk alam semesta. Dalam kegelapan terowongan itu Ananto mulai bisa berpikir dan membuka sedikit file-file tentang gadis itu. Ia sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan ia tanyakan ketika sudah keluar dari terowongan itu. Kereta api itu terus merambat melewati terowongan gelap itu. Orang-orang banyak yang mengeluh "Buangsat, gelap sekali, apa pemerintah tidak sanggup lagi untuk membeli sebuah lampu untuk menerangi rakyat miskin seperti kita ini" teriak seorang laki-laki dari ujung depan gerbong ketiga ini. "Benar mas, mana uang yang kita sumbangkan untuk kereta ini, setiap hari berdesak-desakkan dan berebut mencari sebuah kursi kosong atau sebuat pijakan untuk berdiri, tapi mana uang itu semua?" tambah seorang ibu-ibu dari belakang gadis itu yang suaranya mengelegar melebihi pesawat supersonic. Di ujung belakang seorang pemuda menjawab semua keluhan yang terus bersuara dengan mengatakan " semuanya dengarkanlah aku, para tikus dan celeng yang telah menguras keuangan kereta api ini, lihat kaca yang ada disamping anda semua, binatang itu yang terus mencuilinya, tak terpengaruh dengan rasa kemanusaan atau kehewanan, mereka terus mengeruh barang-barang yang dibawa oleh kereta api ini sampai tubuh kereta api yang telah tua ini terus menderita dan harus segera dimusiumkan" Ananto terus mendengarkan ocehan penumpang yang ada digerbongnya dengan tenang hampir melupakan gadis yang sedang menangis didepannya. Gadis itu mulai terisak-isak, air matanya terus menetes dikerudung putihnya. Lalu kerudung putihnya yang sudah tidak mampu lagi menampung tetesan iar mata gadis itu melepaskan air matanya menembuh baju putihnya.
Kereta api sudah mulai keluar dari terowongan gelap. Gadis itu mulai mengusap air mata yang sedikit mulai berkurang. Gadis itu tiba-tiba membuka mulutnya dan mengucapkan sesuatu.
"Mas mohon maaf atas kejadian ini, tapi ini bukan kehendakku" ucap gadis itu mengawali pembicaraannya denga pelan kepada Ananto yang kaget seperempat mati. Sewaktu gadis itu mengatakan sesuatu yang tertuju kepada Ananto. Ananto sangat sulit untuk menjawab ataupun menimpali apa yang dikatakan oleh gadis itu. Ia hanya melongo, terpaku di tempat duduknya dengan tatapan hampa. Gadis itu telah selesai mengalirkan air matanya yang sejak puluhan ribu detik yang lalu sudah mengalir.
"Mas maafkan aku, aku tahu mas bingung, mengapa aku menangis sewaktu melihat dan memandang mas. Mas tidak pernah salah dan tidak pernah ada yang dipersalahkan". Gadis itu mulai lancar melafalkan kidung-kidung kenelangsaan hatinya. Ia mulai bisa mendendangkan lagu-lagu nostalgia tangisan ke Ananto dengan sedikit irama yang syahdu. Ananto masih belum beranjak dari kemelongoannya, belum bisa berujar tentang nyanyian-nyanyian syetan yang mengunci jiwa-jiwa manusia. Ananto terlihat gugup dan jiwanya bergetar, pelan, lalu mulai bertambah cepat dan tidak bias dikendalikan.
"Mas jangan bingung. Aku hanyalah secuil makhluk yang mengalami penderitaan di tengah padang tandus di gurun keprihatinan. Tapi aku puas dengan keadaan ini. Aku telah bertemu dengan mas untuk kedua kalinya. Pertama ketika seribu hari yang lalu kemudian sekarang ini. Terima kasih kuucapkan kepada mas khususnya yang telah membantu saya untuk menghabiskan tetesan air mata kenangan yang selama berabad-abad detik mengekangku. Air mata ini masih kusisakan beberapa ribu saja untuk menjagaku dan membuatku tetap dengan kewanitaanku, biarlah wujud feminimku terus terpelihara". Gadis itu terus melantunkan syair-syair kenelangsaan yang menyayat perasaan insan penghuni planet nestapa. Ananto menarik nafas, menarik lagi, lalu dikeluarkan. Ia tidak bisa berpikir lagi untuk menjernihkan pikiran errornya. Lalu pelan-pelan ananto memasukkan file antivirus kedalam CPU otaknya. Satu-persatu virusnya dilawan dan dibantai. Antivirus melalu menang dalam jihad menegangkan. Ananto mulai bisa mengucapkan patah-dua patah kata.
"Ma……ma….aaaaafffkan a… ku mbak, a…….ku…." Ananto berhenti. Lidahnya masih kaku. Gigi-giginya berirama seperti instrument membawakan lantunan musik padang sahara.
"Mas tenangkan dirimu. Aku yakin mas bisa menenangkan jiwa mas dengan cepat. Aku sendiri baru bisa menenangkan kepedihanku selama beraba–abad, tetapi mas dalam waktu seribu hari sudah terlihat sangat mampu untuk menenangkan diri mas ini". Ucapan gadis itu terus mengalir bak laju kereta kencana menuju ke istana batara guru.
"Tapi mbak, a…..? Ananto ragu dengan apa yang mau diucapkannya
"Aku terus duduk di kursi no 14 b ini selama seribu hari berharap bertemu mas dan menghabiskan episode tangisan kepedihan ini yang tertunda seribu hari, air mata ini baru saja sirna. Mas entahlah, mengapa air mataku luluh ketika berjumpa dengan mas. Aku tetap duduk di kursi ini dan diam membatu berharap kehadiran mas duduk di kursi yang mas duduki. Alhamdulillah tuhan telah mendengar permintaanku".
"Oh, baaik … baiklah mbak" Ananto sudah terlihat siap dan tenang dalam menghadapi episode yang penting ini.
"Begitu mas, aku selalu yakin dengan ucapanku bahwa mas bisa mengatasi sesuatu yang membelit jiwa mas. Aku lanjutkan, kursi yang mas duduki itu selalu dibiarkan kosong selama seribu hari untuk berharap mas mendudukinya. Aku rela membiarkan kursi itu menangis meratapi nasibnya yang tidak dimanfaatkan oleh manusia. Ia merindukan belaian bokong-bokong yang mau menari diatas kursi itu.aku relakan kursi itu menderita demi air mataku ini". Gadis itu menunjukkan mata sayunya dan Ananto menghela nafas panjang.
"Mengapa itu terjadi mbak?" pertanyaan Ananto keluar dari mulutnya dengan mantap.
"Air mata kepedihan ini telah muncul sejak 5 abad yang lalu. Itu berasal dari sebuah peristiwa yang hampir sama dengan lagu perjalanan yang sangat fenomenal itu, tapi sedikit liriknya berbeda, bila yang dilagu itu seorang ibu, maka lakon yang muncul adalah aku, gadis kerudung putih yang kerudungnya basah terkena aliran air mata".
"Tapi apa hubungannya dengan diriku yang hina dina ini. Apakah aku sebagai seorang anak, eh maaf sebagai seorang pemuda yang akan dipeluk oleh seorang gadis karena teringat akan kekasihnya?" Ananto sedikit menegaskan sebuah statemen yang mengganjal dalam otaknya.
"Benar mas. Penderitaanku ini terobati dengan kemunculan mas. Cerita 5 abad yang lalu ketika seorang pemuda yang menjadi pendamping hidupku dalam mengarungi badai lautan yang keras dan ganas, yang selalu menghantam karang-karang kehidupan. Pemuda itu telah memenuhi impian-impianku, sulit untuk dihilangkan atau dilepaskan filenya".
"Kalau begitu, mohon maaf, sudahkan anda melepaskan kepenatan dalam urusan dunia ini? Kejar Ananto lagi.
"Benar, tapi jangan bingung atau merasa bersalah. Pemuda harapanku itu telah meningalkanku selamanya dengan meninggalkan berjuta-juta kenangan yang sementara ini tinggal beberapa ribu saja karena bertemu mas".
"Lalu apa hubungannya denganku. Apakah ia mirip denganku, mirip dalam apanya?" Ananto terus mendesakkan pertanyaannya ke jaring-jaring gawang sanubari gadis itu. Gadis itu tetap tenang.
"Iya mas, pemuda itu mirip dengan mas, sangat mirip dengan mas, tak ada cacat satupun yang membedakan dengannya. Aku terus memperhatikan dan menatap mas. Barulah air mataku mengalir dari mata sayuku. Itu pertanda bahwa mas dapat menimbulkan dan menghilangkan ingatan-ingatan 5 abad yang lalu. Aku yakin dan pasti bahwa mas adalah titisan pemuda idamanku itu. Mas diutus oleh tuhan untuk mengiras habis genangan air mata yang ada di kedua mataku ini. Kuucapkan terima kasih"
"Oh begitu ceritanya, tapi apakah aku siap dan memang benar yang ditunjuk oleh tuhan dalam cerita ini. Aku hanyalah pemuda hidung belang yang matanya selalu berbinar-binar ketika melihat seorang wanita. Mataku tidak bisa dibohongi. Aku selalu tertarik dan terpesona kepada gadis-gadis. Itu membuat aku deg-degan ketika melihat anda. Deg-deganku kali ini memuncak dan mungkin sudah mengalami masa klimaknya. Aku tidak tahu mengapa hal ini terjadi disaat aku berada di depan anda. Aku tidak tahu mengapa deg-deganku tidak bisa dikendalikan. Tapi atas saran mbak, aku sudah bisa mengatasinya".
"Janganlah deg-degan mas, tuhan mencoba dan memberi cobaan kita sesuai dengan kemampuan kita. Dan inilah akhir dari episode yang telah berabad-abad kujalani. Bersediakah….?"
"Mbak, sulit berucap itu. Untuk itu di penghujung episode ini. Kuperkenalkan nama saya Ananto dari Negeri Kating yang menjaga putuk selama jutaan-tahun. Lalu episode ini kita lanjutkan dan bahkan kita buat lagi".
"Terima kasih mas, namaku Lutfia dari Negeri Katambanan, aku setuju dan di stasiun depan aku akan turun. Nantikan aku seribu hari mendatang untuk membuat episode yang baru lagi". Gadis itu turun di Stasiun Sumber Gempol dan Ananto terus melanjutkan perjalanannya dengan perasaan yang damai.



Stasiun Kota Baru Malang,
27 November 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar