Kamis, 28 Mei 2009

Jamorono

Senja yang merah hati di atas langit kota metropolitan kedua di Negara Metronesia mengantarkan Jamorono ada titik-titik kepenatan, apakah dia pulang atau tetap tinggal lebih lama. Benang-benang kekangenan pada kampung halaman dan kerinduan pada keponakan cilik menggugah hati yang selama ini tahan banting dan bergelora menyeru untuk berdikari, harus disingkirkan pelan-pelan.
Jamorono berjalan menuju ketrayangan yang jaraknya tidak begitu jauh dari Perguruan Hanimandu Putuk karena ia berguru pada Iyang Kamulayaman keturunan Iyang Angkling Darmo yang bisa bercakap dengan Naga Pati. Meskipun hari itu adalah hari kamis, hari yang menyimpan begitu banyak bunga-bunga liar untuk mengucapkan sedikit Sholawat dan Yasin di dalam dada orang-orang yang masih memiliki jiwa kemanusiaan. Jamorono memasuki tangga bus dan menemukan kursi kosong dekat seorang gadis kuning berparas ayu bejilbab putih yang sangat mempesona. Setiap orang yang melihatnya pastilah jatuh hati dan tertarik padanya karena dalam diri gadis itu terdapat butir-butir mutiara surat al-Waqi’ah yang selalu dimaklumatkan setiap saat sekali dengan keyakinan bahwa jiwa-jiwa getirnya bisa teratasi dengan sedikit air pancuran dari surga yang memercik mewudlukannya.
“Permisi mbak, boleh duduk di kursi ini “ pinta Jamorono dengan santun karena tempat duduk yang masih kosong hanyalah di samping gadis jelita tersebut. Gadis itu tersenyum kecil sekecil gumpalan-gumpalan kebaikan yag menyelimuti semua insan manusia dan mempersilahkan Jamorono duduk disampingnya. Jamorono memperhatikan gadis itu singkat agar tidak dituduh mencari kesempatan di dalam prahara kekacauan Negara Atas Langit karena perbuatan para cukong-cukong dan bajul-bajul darat dari Negeri Metronesia yang menguras kekayaan rakyat awam. Beberapa saat mereka berdiam diri merenungi kehidupan sekarang oleh bencana ketidakpercayaan pada para elit selain ekonomi sulit dan hal-hal yang belum pernah terjalani.
Gadis itu membaca sebuah koran ibukota Propinsi Puger joyo yang baru saja di belinya untuk mengisi kekosongan batinnya dalam penungguan waktu untuk beberapa saat agar ranting-ranting kepenatan yang mulai mengering tersirami lagi. Sementara jamo rono melirik kecut berita-berita yang terpampang di head line koran tersebut yang berisi kemelut Negara Rahwana yang menurun pada kekacauan Negara Metronesia yang saling menjatuhkan dan menjegal di kalangan elit.
“Permisi mas, tolong lihat ini, tawa fatamorgana kekuasaan elit-elit politik yang berkilauan dari pucuk-pucuk daun ganja yang diharamkan agama” gadis itu membuka tabir kediaman mereka di dalam bus yang sedang berlari dengan kencang tapi terengah-engah karena dimakan usia.
“Iya mbak, tapi kebingungan muncul dari ketakutan dari keputusasaan para penghuni rumah mewah (mepet sawah) dan ada di kolong jembatan yang selalu terbentur sangkar kekuasaan” Jamorono berusaha mengimbangi gaya pembicaraan gadis itu.
Masa sekarang ini zaman sudah edan, kucing yang ingin bangkit dan ingin mempunyai rasa kekucingan dan memporak-porandakan para tikus birokrat yang selalu menggerogoti rakyat, belum maksimal dan efisien".
"Benar mbak, sekarang ini janji utopis sudah tergeletak di selokan dan koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan".
"Tapi mas, bagaimana cara membasmi para tikus itu, terutama yang bersarang di istana para pimpinan Negara Metronesia, ataupun yang ada di tempat-tempat yang di miliki oleh negara?".
Tiba-tiba ada dua orang bertopeng yang masuk dan mengambil beberapa barang yang bukan menjadi hak miliknya.
"Mas, tolong jangan di ambil barang berharga kami yang hanya-satu-satunya ini" pinta seorang ibu-ibu dari belakang bus sambil merengek-rengek minta dibelaskasihani.
"Tapi inilah cara kami mencari makan" bantah salah seorang manusia bertopeng itu".
"Tolong ambilah barang yang dimiliki oleh bajul-bajul darat yang menghuni istana Negara Metronesia" teriak seorang pemuda yang ada di belakang sebelah kiri.
"Iya aku tahu, tapi aku tidak berani kesana, karena disana di jaga oleh manusia berkepala babi, bertaringkan srigala dan mempunyai ajian segoro geni warisan Empu Tong bajul."
"Pengecut kamu" teriak seorang pemuda dari depan yang suaranya bagaian petir disiang bolong membuat 2 orang bertopeng itu naik darah dan bertegangan 220 volt siap meninju sampai mampus pemuda itu.
"Hey ploco, ini dia seorang perawan aduhai muncul dari bunga matahari" teriak salah seorang penjahat bertopeng yang lebih pendek kepada temannya yang bernama Ploco.
"Tunggu dulu, sabar tho" pinta Jamorono.
"Ada apa kamu, ingin menjadi penghuni kuburan sia-sia"
"Jelas tidak dong, yang saya bingungkan adalah subtansi dari perkataanmu yang membuat seisi jagat raya ini bingung" Jamorono memberi penjelasan.
"Apanya yang dibingungkan" penjahat bertopeng itu mulai kebingungan dan bertanya.
"Itu tadi kamu mencari seorang gadis atau perawan" Jamorono balik tanya.
"Ya jelas perawan tho, untuk persembahan betoro kucil di Pegunungan Bajul mangan"
"Tapi dia kan istri saya, jelas sudah tidak perawan lagi"
"He kamu, benar yang dikataan olehnya" tunjuk perampok bertopeng itu ke gadis itu. Gadis itu diam sejenak, entah apa yang tergodok di imajinasinya mau mengatakan iya atau tidak. Sementara Jamorono menggunakan sentuhan kaki sutranya ke kaki gadis itu.
"Iya pak, dia suami saya"
"Kalau benar ia suamimu, cium dia" tanpa ragu-ragu gadis itu mencium kening Jamorono. Jamorono kelabakan dan agak kikuk menghadapi kemesraan ciuman seorang gadis yang belum pernah ia rasakan. Padahal gadis itu belum pernah di kenalnya membuat beribu-ribu fantasi dan imajinasi yang selama ini belum pernah ia rasakan dalam sanubarinya.
"He kamu jangan keenakaan kalau di cium, siapa nama istrimu dan asalnya dari mana" tanya perampok itu dan jamo rono menghela nafas jang lalu mengumandangkan perkataan yang belum pernah di sadari olehnya.
"Namanya Istianah Hamidah dari Negeri Samping Langit yaitu termasuk Negeri Ngawilangan disamping Gunung Kendeng di Alas Kemanjing yang menyimpan berjuta kenangan dan keteduhan alam dunia yang sibuk mengurusi keduniaannya sendiri. Hal ini memungkinkan untuk terisi oleh berjuta cukong yang memakai topeng dewa dan biksu yang terlihat masih mempunyai ekor berbentuk ekor tikus" Jamorono berbicara panjang lebar.
"Meskipun faktamu banyak, tapi karena kecantikan gadis ini sangat mempesona. Jangankan aku, siapapun termasuk sincanpun akan terpesona, ayo ikut aku, akan ku buatkan istana perak di negeri kincir sewu yang bertebaran wewanginan dewi kunti dari sungai klenter'.
"Tidak mau, aku tidak sudi ikut denganmu'
"Kalau tidak mau, lihat celuritku ini, sangat tajam dan sudah memutuskan leher para menginap losmen atas langit, ini akan membabat leher suamimu"
"Maaf, jangan diteruskan, lihat didepan dadamu terpasang pistol berisi enam peluru intan martapura yang siap menembus jantungmu yang berpenyakit keragu-raguan, cepat jatuhkan celuritmu" ancam Jamorono.
Penjahat itu mati kuku, dan tidak bisa berbuat apa-apa yang menyebabkan mereka lari keluar lewat pintu kemelut dan melemparkan dirinya ke persawahan hijau yang pasti tidak meninggalkan goresan sedikitpun pada tubuh mereka. Sementara barang yang dirampas dibiarkan berbaris tidak rapi dan tinggal menunggu perintah jendral berbintang tujuh karena habis sakit kepala. Secara sukarela barang tersebut diambil oleh pemilik masing-masing.
Suasana bus yang sebelum kedatangan penjahat bertopeng damai dan tenang, setenang lautan teduh seribu tahun yang lalu – menjadi histeris menyambut suka cita karena terbebas dari tekanan batin yang sangat akibat perampok bertopeng tadi. Mereka mengucapkan terima kasih dan memberi ucapan selamat atas pernikahan Jamorono dan Istianah hamidah yang baru berjalan satu bulan. Para penumpang belum mengetahui sejatinya keadaan Jamorono dan gadis tersebut.
"Mas boleh tanya?" tanya gadis itu.
"Boleh"
"Pertama kuucapkan terima kasih atas bantuan yang mas berikan. Kedua, aku meminta maaf beribu-ribu maaf yang sudah sering ku ucapkan terhadap Allah Swt dan Rasulullah Saw. Bahwa aku tadi mencium mas, tapi itu aku dalam keadaan terpaksa dan itu salah satu cara agar aku tidak terjerumus dalam kenistaan. Selanjutnya dunia ini sangat kecil dan sempit tetapi tidak sekecil daun kelor. Apakah aku boleh bertanya, siapakah yang mas maksud dengan Istianah hamidah dari Negeri Samping langit?"
"Aku juga minta maaf, maaf ya aku belum pernah di cium gadis jadi agak kikuk dan semua manusia itu wajib tolong menolong" Jamorono menghela nafas pelan-pelan.
"Istianah hamidah adalah seorang sahabat yang terlepas sewindu yang lalu karena ketidakberdayaanya dalam menghadapi cobaan, dengan ketabahan ikhtiar di Negeri Delapan sanggorohan untuk berguru ke Padepokan Mentalistik. Dia sahabatku waktu aku masih di dalam bimbingan Pendekar Jabar klampis dari Negeri Cendono klawu di Lembah Tegal cacing"
“Oh malang sekali nasib mas, tetapi mengapa sampai sewindu mas tetap melanjutkan copyan memory dengannya.”
"Iya aku tidak bisa melupakan memory jasa-jasanya kepadaku yang menyebabkan kedisiplinan terus terbina sampai terpasang di busur asmara yang membungkam kerinduanku kepadanya".
"Mengapa anda tidak mencarinya?"
"Sudah beribu-ribu hari aku mencarinya tetapi tidak menemukannya padahal pencarianku sudah sampai ke pelosok-pelosok dan juga dekat dengan sarang tikus-tikus sawah yang selalu menyengsarakan dan meresahkan masyarakat di luar perkotaan". Jamorono menjelaskan panjang lebar.
"Oh, aku minta beribu-ribu maaf sekali lagi, tapi apakah mas punya alamatnya yang jelas?" gadis itu terus memberikan pertanyaan.
"Yang kutahu ayahnya punya pesantren yang namanya aku tidak ingat lagi, karena terhapus oleh kerinduanku kepada dia".
"Ngomong-ngomong anda kok sendiri, mana istri kamu?"
"Istri, apa aku ini sudah pantas, lha wong aku belum menemukan titik temu permasalahan yang menghubungkan antar galaksi, pacaran saja belum terpikirkan, kok nambah keruwetan dunia" Jamorono berbicara sambil tertawa
" Maaf ya bukan maksud melecehkan kepribumian mas"
"Nggak apa-apa" Jamorono tertawa lepas di ikuti gadis itu.
"Ngomong-ngomong sejak tadi kita belum kenalan, saya Jamorono dari Negeri Cacing sabongkok di sebuah lembah yang terkenal dengan nama Ngerong nang got, setelah tamat dari Perguruan Cendono klawu aku pergi ke Perguruan Sapto paluwih, lalu ke Perguruan Bringin sewu dan ke Perguruan Joyo tresno di samping Sungai Metro yang membawa ketenangan abadi"
"Nama saya Nala khurotul aini dari Negeri Samping langit sekampung dengan Istianah hamidah. Bila mas ingin menemui Istianah hamidah dan melepaskan rantai dan gelombang yang selama ini mengurung dan menghantui mas dalam bergelut dengan ilustrasi dunia yang fana ini"
"Maksudnya"
"Engkau harus bertemu dengannya besok malam jum'at kliwon tanggal 21 jumadil awal tahun ini pukul 18.30 wib tepat, bila terlambat sedikitpun, nahkoda akan memberangkatkan pelayaran kapal dan andapun tertinggal"
"Dimana alamat lengkapnya" desak Jamorono
"Di Negeri Samping langit Jalan kawilangan gang Putuk no 216 di samping Pesantren Baitul khoir di Pegunungan Kendeng tempat pendekatan diri kepada tuhan semesta alam"
"Insyaallah"Keduanya terdiam, mengikuti irama bus malam yang berlari kencang tanpa rasa was-was. Bus telah sampai di Negeri Bandar kedungmulyo yang menjadi basis penanam padi berkreasi bersama. Jamorono menengok ke belakang dan memperhatikan sekelilingnya yang terdiam tak berkutik. Dia merasa tenang dan tentram karena tujuannya semakin dekat"
"Mas, nanti turun mana?" tanya Nala khurotul aini
"Turun di Perempatan Barong sae di Negeri Tunjang unom"
"Oh sudah dekat"
"Iya, mbak Nala tadi dari mana, kok sendirian, apa tidak takut di caplok macan kelaparan?"
"Saya dari rumah paman di Negeri Waru doyong bersama adik saya yang sekarang masih tinggal di sana"
"Nggak di antar suaminya?"
"Ngaco kamu, orang masih single gini di bilang punya suami, apa aku kelihatan sudah berkeluarga dan tua seperti nenek-nenek yang sudah peot, Lihatlah! Aku masih segar bugar tanpa sesuatu apapun."
"Iya berkeluarga denganku tentunya bila aku tidak tersangkut dengan delima dari pesantren baitul khoir, saya sudah tertarik pada mbak Nala dan ingin menjadi sepasang yang saling berdampingan"
"Jangan ngomong gitu, dan jangan tergesa-gesa tunggu setengah bulan lagi"
"Iya mbak, saran mbak ku perhatikan. Eh maaf aku harus turun dulu Perempatan Borang sudah di depan mata"
"Silahkan dan hati-hati!!"
"Iya, tapi kamu harus lebih hati hati dan waspada bila ada bajul-bajul darat dan juga srigala-srigala lapar yang menguasai Negeri Metronesia ini"
"Iya mas di jamin halal”
“Asslamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
Jamorono bergegas ke pintu depan untuk turun dan melanjutkan perjalanannya ke kampung Cacing sabongkok di Lembah Ngerong nang got yang masih di tempuh sejuta kali loncatan kuda. Pengalaman indah malam itu membuat Jamorono optimis untuk segera menemukan Istianah hamidah yang sudah menghilang selama sewindu lamanya. Tetapi Jamorono sedikit penasaran, mengapa gadis itu mengetahui secara detail identitas dan keadaan Istianah hamidah sekarang ini. Tapi Jamorono tidak peduli dengan hal itu, karena program yang sudah di masukkan ke dalam file otaknya yang berisi sejuta file tentang istianah hamidah dapat di buka kembali dan tidak terkena firus apapun.
Cengkok Nganjuk,
28 Maret 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar