Kamis, 28 Mei 2009

Nyi Nalah

Suara kuda tahun 80-an yang ku naiki mengantarku ke sebuah padepokan yang terkenal di Daerah Watudandang yaitu Padepokan Imambu yang masih terlihat sederhana. Sementara awan-awan putih bergembira mengantarkan sang raja siang pergi ke ranjang kedamaian untuk istirahat dan menyiapkan energi yang digunakan untuk menyinari dan menerangi manusia yang kedinginan oleh kelembutan sang rembulan.
Aku memasuki pelataran Padepokan Imambu dan memarkir kuda tahun 80-anku di ujung timur dari kuda-kuda yang berbagai merek terkenal lain terutama dari Jepang, China dll. Sementara sekelompok anak muda menyambutku dengan meriah.
"Hei ron, tumben kamu datang? Ejek Pendekar Imambu dari kerumunan manusia-manusia yang sedang membuat gaduh.
"Tuh yang kasih surat" jawabku sambil menunjuk Pendekar Plecor yang berpakaian coklat.
Semakin lama teman-temanku bertambah banyak hampir membentuk sebuah batalion raider yang kekuatannya setara dengan kekuatan 3 batalion infanteri biasa untuk memenuhi undangan pernikahan Pendekar Paini di Pelataran Candi kuno penghuni bangsa peri di Daerah Surowono.
Senja telah turun, seakan merambat dan membelai Sungai Brantas yang kami seberangi untuk menuju Padepokan Sangkar pundak sayur yang berjarak beberapa tahun cahaya dari singgasana raja di Negeri ibu kota angin.
"Hud, Padepokan Sangkar pundak sayur itu kan dekatnya Padepokan Katelor horen di Pulau Kondang pitik" tanyaku penasaran.
"Ya pasti benar" jawab Pendekar Hudano seadanya.
"Nanti kita mampir ke sana ya "
"Ya, benar"
"Kok kamu bilang ya benar terus ada apa?"
"Nggak ada apa-apa. Eh ngapain kamu ke Padepokan Katelor horen, di sanakan banyak jebakan?" tanya Pendekar Hudano.
"Enggak, cuma ngunjungi mantan pacarnya Pendekar Burhano"
"Mantan" Pendekar Hudano melotot tidak percaya.
"Iya, emangnya kenapa, dia kan yang bubaran, kami tetap baik-baik saja dan tetap saling mengunjungi dan menyapa" jawabku semaunya.
"Ok, kalau begitu"
Malam perlahan menyusul, aku berusaha mendahuluhi teman-teman sambil ngobrol dengan Pendekar Hudano dari Pesantren Nglawak yang terkenal keriangan hati.
"Hud, siapa gadis itu"
"Waduh, kamu ini kuper banget, dia itu kan teman kita dulu waktu sama-sama berguru ajian pancamurti di Padepokan Cendono klawu"
"Oke, aku paham, teman kita di Cendono klawu, lalu siapa namanya?" desakku kepada Pendekar Hudano.
"Walah-walah ini, ingatanmu sudah kamu taruh dimana tho, apa karena kamu mempelajari Ilmu Gringsing dan Nglajoyo sehingga kamu tidak ingat sama teman-temanmu dulu"
"Aku nyerah deh"
Baik, dia Nyi Nalah putri Kyai Syamsul dari Pesantren Singkal enggal di Lembah Kagedongan di Negeri Paramban".
"Nyi Nalah" aku berusaha mengingat memory enam dasawarsa lalu dan tetap memacu kuda tahun 80-anku agar tetap jalan.
"Oh aku ingat, dia kan primadona perguruan kita yang di anggap kembarannya Nyi Risah sang primadona Negeri Banjur kadadap"
"100 % leres" Pendekar Hudano tertawa terbahak-bahak.
Kubayangkan gadis itu dengan khusuk sekhusuk sholatnya para kyai dari pesantren yang tiada pengganggunya. Beberapa saat kemudian tiba di Negeri Candi kuno yang sangat asri dan masih perawan seperawan gadis itu dengan senyumnya yang simpul. Tiba-tiba gadis itu tersenyum kepadaku dengan senyum keabadian. Akupun tidak bisa menyembuhnyikan kebahagiaan yang selama ini kemarau sekemarau pada zaman Nabi Yusuf ketika menjadi pegawai negara. Aku yang semula tidak percaya lagi terhadap kesejukan batin ketika seorang gadis menjabat tanganku. Aku gemetaran dan dia merasakannya.
"Ron, jangan sok santri tulen" hardik Nyi Nalah sambil tersenyum.
"Tidak, aku kan penganut Kyai Masrukin dari Pesantren Bok kembar di Lembah Ngejen dan aku tidak bisa menyembuhnyikan kebahagiaan yang tidak mungkin di lukiskan dengan segala tinta dan dibungakan di bank manapun karena selama ini aku kering dari jabatan seorang wanita yang benar-benar mau mengenal diriku"
"Oh benar itu?"
"Tentu benar, di jamin halal"
"Kalau gitu kita jodoh kan?"
"Oh tentu-tentu"
"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan kamu selama ini Ron?"
"Ya kamu jelas tahu sendiri, seperti ini"
"Bukan itu maksudku, tapi kemana kamu selama 3 dasawarsa ini tidak pernah menunjukkan batang hidung?"
"Kangen ya, aku selalu terkenang akan dirimu, di manapun termasuk di wc dan kamar mandi juga masih menyimpan segudang amunisi memory denganmu"
"Serius dikit dong"
"Iya ya, aku tahu, setelah menyelesaikan di Perguruan Cendono klawu, aku pergi ke Perguruan Kuwak mbureng dan Pesantren Ngadisimo lalu pergi ke Perguruan Singgahan bringin di kaki Gunung Kelut untuk belajar Ilmu Grising yang terkenal itu sambil di Pesantren Pelem yang membawa kedamaian, lalu aku berkelana hingga sampai di Perguruan Joyo trisno di kaki Gunung Yugo tilem yang menyimpan banyak ilmu-ilmu kuno dan ilmu kebatinan seperti Ilmu Pancar geni dan Sahabar.
"Oh sangat hebat" nyi nalah sangat terpesona dengan pengamanku selama 3 dasawarsa ini.
"Ah itu belum seberapa, lalu kamu sendiri bagaimana?"
"Di rumah saja"
"kembali ke TK ya? Tanyaku sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apa itu TK?" tanya Nyi Nalah penuh heran.
"Tunggu kawin" jawab pendekat plecor yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kami.
"Ah kamu ini bisa-bisa saja, siapa yang mau dengan aku yang jelek begini. Nyi Nalah yang terlihat merendah yang meremehkan dirinya.
"Siapa …..? Kan banyak sekali pendekar yang mau denganmu. Contohnya aku ini"
"Beneran nih"
"Ya jelas benar , kita akan melanjutkan tradisi perayaan pernikahan setelah acara pernikahannya Pendekar Paini"
"Aduh apa aku ini cocok dengan pendekar kenamaan di Kerajaan Anjuk ladang ini"
"Nyi Nalah, jangan merendah, kamu kan baru berguru pada Iyang Resi Sujoyo notoboto di Negara Majalengka. Malah ilmu kebatinnya sudah sampai pada tingkat ke tujuh" sela Nyi Najah yang sejak tadi ngobrol dengan dengan Pendekar Imambu dan juga mendengarkan siulan-siulan dan ocehan-ocehan burung yang bersarang di langit-langit.
"Ha hebat sekali kamu Nyi, sampai sejauh itu pengembaraanmu?"
“Bohong itu Nyi Najah, aku hanya di rumah saja” bela Nyi Nalah sambil menyembuhnyikan kebenaran.
“Jangan malu, aku saja sampai sekarang belum bisa meneruskan ilmu kebatinan saya, saya hanya sampai tingkat 3”
------------
Jam menunjukkan pukul 20.30 WAT (Waktu Anjuk ladang bagian Timur), kurang setengah jam lagi acara di mulai, tetapi desas desus yang belum menyebar menjadi gossip bahwa acara belum di mulai menjadi santer. Pendekar Imambu yang terbangun dari mimpi yang indah mulai ngoceh setelah makan pisang dari Negeri Ambon.
"Ini gimana tho, kita di undang kesini utuk melihat acara pengantin atau aksinya pengantin"
"Maksudnya?" tanya Pendekar Kasuna
"Masak undangan pukul 21.00 WAT, apa itu tidak mengganggu penganten di istananya."
"Manut saja saya" jawab Pendekar Plecor asal-asalan.
"Nyi, gimana kabar kembaranmu?" aku bertanya kepada Nyi Nalah lagi yang seketika disela oleh Pendekar Madon.
"Ia sudah menikah"jawab Pendekar Madon.
"Aku nggak nanya kamu”.
"Ya sudah aku diam"
"Benar, ia sudah menikah di bulan shafar dengan pendekar dari Lembah Combore di samping Alas Gondang asin.
"Kalau kamu kapan?"
"Ya nunggu kamu, kapan siapnya"
"Wah deg-degan aku, kapan ya enaknya, sekarang ya bisa, aku sih siap-siap saja" aku berdua tertawa lepas karena beban di pundak ku dan Nyi Nalah yang selama ini untuk meminggul negara bulan mengopeni para lintah-lintah darat seperti bajingan jangkoro, kampret, dan bagigul yang telah memeras rakyat Kerajaan Kacengkokan melalui akar-akar jantung papaya yang selama ini meresahkan kawanan pemburu bajul buntung.
Malam semakin larut, acara pernikahan Pendekar Paini dengan Pendekar Jurupi dari Tangkis rame di tepi Sungai Brantas memasuki babak pertengahan yaitu babak pengenalan. Undangan larut dalam ketakjuban ketika Pendekar Paini memakai baju yang besarnya melebihi payung pusaka dari Negeri Garapu.
--------------
Aku berjalan keluar mengikuti angan-anganku bahwa akan ada suatu peristiwa maha dasyat yang akan melanda daerah candi kuno ini.
"Nyi Nalah, kesini" teriakku kepada Nyi Nalah yang ada di dalam padepokan.
"Ada apa ron"
"Lihat di atas langit sana" tunjukku ke arah rembulan
"Woowwww, sangat menakjubkan, gerhana bulan"
"Iya, pernikahan ini di saksikan oleh gerhana bulan dan juga kita berdua dalam mengikat tali silaturahim dan dengan simpul-simpul mati di saksikan dan di restui oleh tuhan melalui gerhana bulan ini"
"Maksudnya?" Nyi Nalah terbengong.
"Itu tadi, kita akan segera meneruskan tradisi yang di ciptakan oleh endekar Paini"
"Oh tentu"
Setelah acara pernikahan Pendekar Paini selesai, bergegas rekan-rekannya dari semua unsur menyalami dan memohon pamit. Nyi Nalah yang menghadiri pernikahan ini bersama Nyi Najah mengakhiri kisah cerpen ini ke daerah seribu macam angin. Aku melepas kepergian Nyi Nalah dengan hanya bisa berdoa bahwa ia kelak akan berjumpa dengan Nyi Nalah lagi. Kepergian Nyi Nalah yang di dampingi oleh dedaunan pohon mangga dan kehikmatan makhluk-makhluk yang tidak berdosa mengantarkan nyi nalah agar dapat melanjutkan memori yang tidak dapat di tinggalkan. Sementara awan-awan putih yang mengiringi peristiwa gerhana bulan bergembira ria dengan kembalinya sang rembulan dari kegelapan semenit. Sebagaimana hati yang kumiliki menjadi terbuka dalam mengantar kepergian Nyi Nalah.


Joyosuko Malang,
31 Desember 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar